(MarketWatch) — Consumer sentiment has risen to the highest since June, while remaining at relatively low levels, according to data released Wednesday from the University of Michigan and Thomson Reuters.
A gauge of consumer sentiment hit 64.1 in the final reading for November — the highest level since June — compared with 60.9 in October. A preliminary reading for November pegged the gauge at 64.2. Last year, however, the index stood at 71.6.
Economists polled by MarketWatch had expected a final November result of 65, with consumers somewhat cheered by lower gas prices, but concerned about stock volatility.
The sentiment gauge, which covers how consumers view their personal finances as well as business and buying conditions, averaged about 87 in the year before the start of the most recent recession. Economists watch sentiment data to get a feel for the direction of consumer spending.
A separate report from the government on Wednesday showed that personal-consumption spending slowed down in October.
Consumers’ views on current conditions and their expectations rose in November, according to Wednesday’s sentiment data. The current-conditions gauge rose 77.6 in November from 75.1 in October. Last year gauge was at 82.1. The expectations barometer increased to 55.4 in November from 51.8 in October. Last year the barometer was at 64.8.
Wednesday, November 23, 2011
Consumer sentiment highest since June
Yield Obligasi Prancis & Belgia Masih Terkerek Naik
Kanselir Jerman, Angela Merkel menghadapi tekanan untuk melunakkan sikapnya untuk mengeluarkan senjata utama menghadapi krisis utang. Sementara ECB di hari Rabu kembali mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya masih mendukung program pembelian obligasi Spanyol dan Italia untuk mengembalikan keyakinan para investor.
Tekanan lain datang dari Bank Prancis Belgia, Dexia yang mengancam rating triple-A Prancis, terpantau sejauh ini yield obligasi Prancis tenor 10-tahun naik 0.11 persen poin ke level 3.63%, sementara yield obligasi Belgia tenor 10-tahun merangkak naik 0.08 persen poin ke 5.12%.
Bagaimanapun para pelaku pasar secara keseluruhan masih meragukan kemampuan Uni Eropa untuk mengelola krisis utang dan menjaga supaya biaya pinjaman tidak menanjak ke level yang riskan.
Kenaikan yield obligasi ini merupakan saat yang buruk terutama bagi Prancis dan Belgia, karena kedua negara tersebut dijadwalkan utuk melelang obligasi di minggu depan.
| Reactions: |
Profit Taking Hantui IHSG
Bursa Indonesia terbebani pelemahan sebagian besar pasar Asia akibat potensi pelemahan saham AS yang diindikasikan dari pergerakan kontrak Dow Jones yang negatif, menurut trader. Level support indeks utama berada di 3680 setelah kemarin ditutup naik 1.5% menjadi 3735.532.
"Banyak faktor negatif dari luar yang dapat memaksa investor untuk mengambil keuntungan setelah kemarin sempat menguat," menurut manajer pendanaan di perusahaan manajemen aset lokal. Profit-taking menekan saham Bank Mandiri (BMRI.JK) dan Astra (ASII.JK) setelah kemarin gain masing-masing 3.8% dan
Rating AS Mungkin Segera Terpangkas
Kegagalan badan komite untuk mencapai kesepakatan terhadap rencana pemangkasan anggaran memperlihatkan kemungkinan downgrade rating hutang pemerintahan, dengan agenda pemangkasan diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun.
“Hanya masalah waktu sebelum rating pemerintah AS dipangkas”, dikatakan oleh Steve Ricchiuto, pimpinan ekonom dari Mizuho Securities, dalam sebuah laporan.
“Saya tidak akan terkejut apabila S&P menempatkan obligasi untuk pemangkasan lainnya dalam beberapa minggu mendatang dan bahwa tindakan Moody’s atau Fitch sebelum 23 Desember ketika badan legislasi menerapkan rekomendasi dari badan komite yang dijadwalkan akan segera diwujudkan”, ditambahkannya.
Fed Akan terapkan Stress Test Terhadap 6 Bank Besar
Federal Reserve mengumumkan rencana penerapan untuk babak baru stress test terhadap sektor perbankan AS – termasuk 6 bank besar – untuk melihat ketahanan bank-bank tersebut serangan pasar, seperti meningkatnya tekanan krisis hutang. Feds mengatakan stress test digunakan terhadap bank-bank yang secara umum bergerak berdasarkan harga dan tingkat suku bunga yang terjadi di pertengahan tahun kedua 2008, dan juga tekanan tambahan yang datang yang berkaitan situasi di Eropa.
6 bank besar tersebut adalah Bank of America, Citigroup, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley dan Wells Fargo. Meningkatnya stress test untuk bank-bank tersebut merupakan bagian dari tindakan pengawasan yang akan dilakukan Feds untuk melaksanakan rencana permodalan.
Review dari Feds dari rencana tersebut akan menentukan apakah bank tersebut dapat memberikan kenaikan dividen atau pembelian kembali saham. Bank-bank tersebut akan menyerahkan rencana permodalan mereka pada 19 Januari 2012.
Sanksi Terhadap Iran Angkat Minyak
Minyak mentah AS naik pada perdagangan yang bergejolak hari Selasa seiring usaha untuk memperkuat sanksi terhadap Iran dan keresahan di kawasan meningkatkan kecemasan geopolitik, mengalahkan kecemasan mengenai pertumbuhan ekonomi global. "Faktor sanksi Iran, Mesir, Siria, dan bahkan Libya yang menggerakkan harga hari ini terutama menjelang hari libur Thanksgiving di AS," ucap Dominick Chirichella, mitra senior pada Energy Management Institute, New York.
Amerika Serikat, Inggris dan Kanada pada hari Senin mengumumkan sanksi baru terhadap sektor energi dan keuangan Iran untuk memberikan lebih banyak tekanan bagi Teheran untuk menghentikan apa yang disebut International Atomic Energy Agency milik PBB sebagai usaha menggunakan program nuklir untuk menciptakan senjata.
Fed Pertimbangkan Kejelasan Pada Kebijakan Suku Bunga
Petinggi Federal Reserve pada bulan ini mendiskusikan bagaimana mereka memberikan dunia usaha dan investor lebih banyak informasi mengenai apa yang dapat memicu kenaikan tingkat suku bunga. Namun Fed menahan diri untuk merubah tingkat suku bunga, menurut minutes pertemuan tanggal 1-2 November. Panel yang diketuai oleh wakil Janet Yellen sedang mencari cara untuk memberikan lebih banyak informasi mengenai langkah bank sentral di masa mendatang. Kejelasan pada kebijakan tingkat suku bunga dapat membantu meyakinkan investor dan dunia usaha bahwa tingkat suku bunga akan tetap berada di level rendah.
Pasca pertemuan bulan November, Fed memberikan outlook yang suram bagi perekonomian AS, memprediksikan penurunan pada GDP dan akan menghadapi kenaikan tingkat pengangguran. Fed tidak mengumumkan adanya kebijakan baru, namun suramnya outlook meningkatkan peluang diambilnya kebijakan tambahan dalam waktu dekat. Menurut sejumlah ekonom, Fed dalam pertemuan tanggal 13 Desember nanti mungkin akan mengumumkan rencana pembelian obligasi kredit perumahan untuk membantu pasar perumahan. Opsi lain untuk Fed adalah QE3.
| Reactions: |
Subscribe to:
Posts (Atom)