Wednesday, November 30, 2011

Aksi Koordinasi Bank Sentral Dongkrak Likuiditas

The FedECBBoJ, BoE, Bank of Canada, dan Bank of Switzerland mengumumkan langkah terkoordinir untuk menambah likuiditas dengan menurunkan suku bunga pinjaman antar bank sentral sebesar 50 basis point dan memperpanjang jalur kredit ini hingga Februari 2013.
Tingkat suku bunga baru dollar ini akan mengurangi swap rate Dollar dari sebelumnya 100 basis point, berdasarkan pernyataan The Fed di Washington.
Tujuan aksi ini adalah untuk meredakan ketegangan pasar keuangan dan mengimbangi dampak dari keterbatasan supply kredit supaya bisa membantu aktivitas ekonomi, dan bisnis.

Laporan Tenaga Kerja ADP Lampaui Estimasi

ADP melaporkan pertambahan tenaga kerja sektor swasta naik 206,000 dari bulan Oktober ke November, diatas estimasi 130,000 dan diatas laporan bulan sebelumnya sebesar 110,000.
Kenaikan bulan November ini merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak bulan Desember tahun lalu dan dua kali lipat dari kenaikan bulanan rata-rata sejak bulan Mei.
Deviasi yang besar pada ADP ini akan menyebabkan revisi kenaikan data tenaga kerja kunci, non farm payroll AS pada hari Jumat mendatang.

Hasil Rapat Ecofin Setujui Penambahan Kapasitas EFSF

Mr. Schauble mengatakan bahwa hasil rapat menteri keuangan zona Eropasementara di Brussels bahwa mereka belum bisa menyepakati perjanjian untuk menambah power EFSF / European Financial Stability Facility.
Meski demikian para menteri keuangan Eropa saat ini kemungkinan besar dapat meraih kesepakatan untuk menambah jumlah dana EFSF tersebut menjadi 500 milyar Euro s.d 700 milyar Euro, dibawah harapan para investor sebelumnya sebesar 1 trilyun Euro. Jumlah pinjaman talangan ini dianggap kurang cukup untuk menyelamatkan Spanyol maupun Italia.
Para menteri keuangan Eropa juga sepakat bahwa mereka sedang menempuh upaya lain untuk mencari bantuan ke IMF untuk menambah kapasitas EFSF serta penerbitanobligasi bersama dengan sertifikat jaminan yang dapat melindungi pemilik obligasi sekitar 20-30% dari obligasi sovereign.
EFSF akan mengimplementasikan beberapa pendekatan baru ini dan akan siap dilaksanakan pada 2012.

EURUSD Melonjak Diatas 1.3300 Paska Rate Cut China

Mata uang Euro berbalik dari level rendah 1.3260 dan melambung sekitar 70 poin setelah China memangkas giro wajib minimumnya sebesar 50 basis point.
Terpantau sejauh ini pair currency EURUSD terkerek naik 0.11% ke level 1.3329, setelah kemarin turun tajam dari level 1.3445.
People’s Bank of China (PBoC) menurunkan giro wajib minimum sebesar 50 basis point untuk kali pertama sejak tahun 2008, mengindikasikan perubahan kebijakan moneter yang lebih mengakomodir perekonomian, setelah dalam 3 tahun dalam kebijakan pengetatan moneter, sebagai salah satu upaya untuk menyediakan likuiditas dan mendongkrak aktivitas ekonomi.
Secara teknikal, bias intraday EURUSD masih netral, dengan resisten terdekat di area 1.3370, tembus diatas area tersebut berpotensi menambah tekanan koreksi keatas mengincar area 1.3440.
Di sisi bawahnya, support terdekat ada di level 1.3250 – 1.3200 – 1.3145.

GDP India Tandai Kekuatan Emerging Markets

Kinerja ekonomi emerging markets makin bagus jelang akhir tahun. Meski perlambatan tengah mendera Eropa dan Amerika, sektor produksi negara berkembang masih solid.
Laporan terbaru memperlihatkan bahwa Produk Domestik Bruto India naik 6,9% year-on-year pada kuartal Juli-September. Hasil rilis GDP sejalan dengan perkiraan para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones Newswires. Namun pertumbuhan ekonomi sedikit lebih lambat dibanding angka ekspansi 7,7% yang tercatat pada kuartal antara April hingga Juni. Output manufaktur naik 2,7% dibanding tahun lalu sementara output pertambangan turun 2,9%.

Harga Rumah di AS Terus Surut

 Harga rumah di Amerika Serikat (AS) terus turun pada kuartal III 2011. Nilai properti kini terpantau pada level yang terakhir kali tampak pada awal 2003 silam.
Harga rumah turun 3,9% pada kuarta yang berakhir September dibanding periode sama tahun lalu. Demikian menurut rilis harga rumah nasional S&P/Case-Shiller. Sementara dibanding triwulan sebelumnya, harga hunian sedikit lebih tinggi sebanyak 0,1%.
Satu titik fakta positif dari kinerja harga terkini adalah rasio penurunan yang terus melambat pada setiap kuartal. Catatan triwulan lalu, secara year-on-year lebih rendah dibanding laporan kuartal II, yang menunjukkan penurunan 5,8%. "Setiap peluang pemulihan membutuhkan perekonomian yang lebih kuat," kata David Blitzer, Juru Bicara S&P.
Indeks harga gabungan 20 kota utama S&P/Case-Shiller's turun 3,6% dibanding kuartal III tahun 2010. Penurunan ini lebih tajam dibanding konsensus Briefing.com, yang memproyeksikan penurunan 3%. Harga pada 18 dari 20 kota metropolitan terlihat menurun dalam satu bulan terakhir. Adapun rekor harga terendah dipegang oleh 3 kota yaitu Atlanta, Las Vegas dan Phoenix. Di Phoenix, harga rumah hampir kembali level yang tercapai pada bulan Januari tahun 2000.
Kota yang melawan tren penurunan harga hanya Detroit dan Washington DC. Tingkat harga di dua kota ini meningkat masing-masing sebesar 3,7% dan 1% dibanding tahun lalu. Sementara New York dan Portland mencatat kenaikan harga hunian antara Agustus dan September.

Investor Masih Beli Saham, IHSG Positif

Bursa Indonesia naik 0.2% menjadi 3694.213 dalam volume perdagangan yang tipis namun berada di bawah level tinggi di 3718.977, dengan inevstor asing yang melakukan pembelian saham-saham pilihan diantaranya saham telekomunikasi dan saham berbasis komoditi, kata trader. Indek utama bergerak di kisaran 3670-3720 hari ini. "Secara keseluruhan sentimen pasar masih rapuh. Hal ini dapat mendorong institusi lokal untuk mengambil keuntungans saat indeks rebound," menurut trader di perusahaan sekuritas lokal. Investor asing melakukan pembelian saham senilai IDR132 miliar. Indosat +4.9% menjadi IDR5,350 dan pesaingnya Telkom (TLKM.JK) +1.4% menjadi IDR7,250, sementara Adaro (ADRO.JK) +1.4% menjadi IDR1,920. Profit-taking melanda saham Astra (ASII.JK), yang turun 1.5% menjadi IDR69,950.

Profit Taking, Isu Downgrade Berangus Nikkei

Sampai dengan sesi perdagangan siang di hari Rabu (30/11) indeks Nikkei-futures tercatat melemah lebih dari 1% hingga ke level rendah 8360.
Merosotnya Nikkei terutama akibat faktor ‘profit taking’ dari investor setelah kekhawatiran krisis di zona Eropa mulai mereda. Menyusutnya kecemasan pasar terkait setelah pihak Dana Moneter Internasional (IMF) terlihat akan lebih agresif lagi dalam mengambil langkah kebijakan guna menanggulangi krisis.
Tergerusnya Nikkei juga lantaran munculnya berita negatif dari Amerika, dimana Standard & Poor's kembali mengumumkan penurunan peringkat terhadap beberapa bank besar di AS termasuk diantaranya JPMorgan Chase & Co dan Bank of America. Pihak S&P menyebutkan langkah tersebut merupakan hasil dari perombakan kriteria ratingnya. Dan Bank-bank yang terkena dampak kemungkinan harus menghadapi peningkatan biaya utang. Sontak berita negatif tersebut akhirnya telah menghambat laju rally bursa Tokyo hari ini.

Downgrade Prancis Ancam Kesinambungan EFSF

 Kemarin beredar kabar bahwa Standard & Poor's segera merevisi penilaian terhadaprating kredit Prancis. Jika laporan dari media La Tribune itu terbukti, maka negara pimpinan Nicolas Sarkozy bisa mengalami downgrade dalam hitungan bulan.
Dalam 10 hari ke depan, reputasi kredit Prancis dipertaruhkan. Meski S&P menolak berkomentar soal kebenaran berita ini, pelaku pasar sudah mulai menyerap spekulasi itu. Seandainya downgrade terbukti dalam beberapa bulan mendatang, maka keberlangsungan Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF) sangat terancam. Padahal EFSF di-plot sebagai benteng pelindung Eropa dari penyebaran krisis lebih luas. Posisi Prancis saat ini adalah pelopor EFSF ke-dua setelah Jerman. Paris memberi topangan dana jaminan senilai 158 miliar euro pada paket penyelamatan. Berita di pasar menyebut total bailout yang dipersiapkan mencapai 780 miliar euro. Namun analis melihat bahwa jumlah sesungguhnya tidak sebesar itu.
Lalu, bagaimana kelanjutan resolusi Eropa jika Prancis sendiri gagal menjaga kualitas kreditnya? Beberapa analis ternama berbagi pandangan ihwal kecemasan downgrade terhadap negara tersebut. Berikut kutipannya:
1. Kathy Jones, Strategis Fixed Income, Charles Schwab
"Bukan hal yang mengejutkan bila Prancis akhirnya di-downgrade."
Jones menilai banyak negara Eropa layak diturunkan peringkat hutangnya. Namun untuk Prancis, downgrade sama artinya dengan ancaman terhadap substansi EFSF. Jumlah dana bailout dari Paris bisa berkurang sewaktu-waktu karena Sarkozy pasti ingin terlebih dahulu menyehatkan kondisi fiskal dalam negeri. Bukannya berekspansi, dana EFSF justru rawan tergerus oleh kabar ini.
2. Tobias Blattner, Ekonom Daiwa Capital Markets, London
"Investor akan beralih ke obligasi Jerman dan EFSF."
Ya, pelaku pasar sudah alergi terhadap aset obligasi negara dengan rating rentan. Pilihan utama tentu pada surat hutang pada negara dengan peringkat AAA, seperti Jerman. Kasus Yunani memberi pelajaran bahwa investasi risiko bisa sangat merugikan. Tdak hanya itu, downgrade Prancis juga bisa memupus gagasan obligasi bersama yang sedang digodok oleh komisi Eropa. Untuk Prancis sendiri, pemangkasan rating tidak berarti pada kenaikan bunga obligasinya. Mengingat harga pasar terkini sudah terkondisi dengan kemungkinan terburuk, sebuah berita baik bagi Paris. Yield obligasi Prancis 10-tahun naik melampaui 3,7% di tengah periode kenaikan obligasi Eropa. Pada hari Selasa kemarin, yield bergerak di kisaran 3,5% atau naik tajam dibanding catatan bulan September silam (2,5%). Blattner memperkirakan downgrade Prancis terjadi pada awal tahun depan. Kombinasi antara ketidakmampuan EFSF, eksposur perbankan Prancis terhadap negara penghutang Eropa dan defisit anggaran pemerintah membuat segala sesuatunya mungkin.

American Airlines Bangkrut, Saham Anjlok

American Airline, perusahaan induk AMR Corp, operator maskapai penerbangan AS yang dikatakan tidak dalam kebangkrutan selama beberapa decade, akhirnya menyerah pada kenyataan akibat dampak ekonomi global hari Selasa dan berlindung pada peraturan Bab 11 sebagai perlindungan dari para krediturnya.
AMR memiliki tingkat tenaga kerja dan beban kerja opersioanl yang terbesar di industri tersebut. Reorganisasi dibawah perlindungan undang-undang Bab 11 membuat perusahaan tersebut dapat membuka peluang re-negosiasi tenaga kerja, pinjaman armada dan kontrak fasilitas, sama halnya dengan beban pendanaan kembali untuk persyaratan yang lebih mudah.
Saham perusahaan tersebut anjlok sebanyak 88% terkait berita tersebut sebelum penutupan bursa di level 26 sen per lembar saham, turun 84%. Dalam perdagangan diluar waktu formal, saham perusahaan tersebut naik 8 sen menjadi 34 sen.

Profit Taking Intai Hang Seng

Setelah rally hingga 3.2% dalam dua hari terakhir, hari ini (30/11) pergerakan Hang Seng dibayangi profit-taking. Pelemahan indeks juga dipicu oleh penurunan peringkat lebih dari selusin bank yang dilakukan oleh S&P, menurut Steven Leung, direktur penjualan UOB KayHian.
"HSBC, satu-satunya bank yang terkena downgrade S&P yang terdaftar di bursa China. Sementara peringkat beberapa bank China diantaranya China Construction Bank dinaikkan," kata Leung. Fokus jangka pendek pasar adalah pada data PMI China yang dirilis besok (01/12). Angka diprediksi menurun. Makin rendah angka PMI, makin kuat ekspektasi bagi pemangkasan RRR." CCB kemungkinan sedikit melemah dikarenakan dilepasnya sekitar 400 juta saham oleh salah satu pemegang saham yang tidak disebutkan namanya. Kemarin HSI ditutup +1.2% menjadi 18,256.20