Tuesday, January 31, 2012

Swissie Kembali Mendominasi Greenback

Setelah sempat memperlihatkan penguatan pada hari kemarin, mata uang cadangan dunia kembali harus diperdagangkan di zona merah pada hari Selasa seiring pulihnya sentimen terhadap resiko yang dipicu serangkaian berita positif dariEropa. Indeks Dollar, yang mengukur kinerja mata uang AS terhadap 6 mata uang utama lainnya harus merosot sekitar 0,45% ke level 78.80 sejauh ini.
Sentimen pasar nampak mulai membaik setelah para pemimpin Eropa yang menghadiriKTT sepakat, terkecuali Inggris dan Republik Ceko, untuk memberlakukan disiplin fiskal yang ketat dan akan mengoperasikan penuh perjanjian ESM pada bulan Juli 2012 mendatang. Data pengangguran Jerman yang lebih rendah dari perkiraan juga turut menopang minat terhadap aset beresiko pada hari Selasa.
Pelemahan Greenback tentu memberi peluang bagi Franc Swiss untuk merebut kembali dominasinya, terlihat dari pergerakan USDCHF yang sejauh ini telah merosot lebih dari 0,5% untuk diperdagangkan pada kisaran 0.9125. Apresiasi Swissie lebih lanjut jelas akan semakin menambah tekanan ekstra terhadap SNB yang telah berkomitmen untuk menjaga batas nilai tukar Franc pada 1.20 per Euro.
Dari sisi teknikal, penembusan level terendah kemarin di area 0.9115 akan membuka jalan bagi USDCHF untuk menguji support berikutnya di 0.9090 (Bollinger terbawah) dan kemudian 0.9065 (low 30 Nov). Sedangkan level resistensi mungkin dapat dijumpai pada area 0.9210 (high 30 Jan), diikuti oleh zona 0.9315/25 (high 6 Okt/MA 50-hari) dan 0.9400 (high 22 Des).

USDJPY Bangkit Menjelang Rilis Data AS

Setelah sempat menyentuh bottom di 76.17 pada sesi Asia hari Selasa, USDJPY mampu berbalik menguat menjelang rilis beberapa data ekonomi ASyang diperkirakan akan memperlihatkan perbaikan. Pergerakan tersebut lebih disebabkan oleh melemahnya Yen setelah tingkat pengangguran Jepang secara mengejutkan memperlihatkan kenaikan, yang mengindikasikan terpukulnya sektor manufaktur oleh apresiasi Yen.
Menteri Keuangan Jepang pada hari Senin kembali menegaskan bahwa pemerintah telah siap untuk meredam pergerakan yang berlebihan dan spekulatif dari Yen jika memang diperlukan. Komitmen yang diumumkan FOMC pekan lalu telah memaksa USDJPY membukukan penurunan tajam dalam beberapa sesi terakhir hingga mendekati level intervensi.
Laporan S&P/Case-Shiller hari ini diperkirakan akan memperlihatkan perbaikan moderat pada indeks harga rumah 20 kota besar AS di bulan November. Ekspektasi para ekonom juga menunjukkan jika kepercayaan konsumen AS mengalami peningkatan pada bulan Januari.
Dari sisi teknikal, level resitensi USDJPY berikutnya mungkin akan dapat dijumpai pada 76.48 (high 24 Okt), diikuti oleh 76.77 (high 30 Jan) dan 77.00 (high 9 Jan/level psikologis). Sebaliknya level support berada di 76.10 (low 22 Sept), kemudian 75.79 (low 21 Okt) dan rekor terendah 75.56.

Davos, Forum Ekonomi Tanpa Makna

Seperti diperkirakan banyak ekonom, The World Economic Forum di Davos tidak menghasilkan resolusi apapun terhadap perekonomian dunia. Event akbar di Swiss cenderung hanya ajang pertemuan formal semata.

Fasilitas pertemuan di Davos memang terkenal dengan keindahan alam dan jalur rekreasi ski yang eksotis. Setiap utusan korporasi dan negara sangat dimanjakan oleh eksklusifitas yang ditawarkan oleh objek turisme mahal ini. Godaan kemewahan pula yang mungkin membuat banyak delegasi terlihat tidak sungguh-sungguh memikirkan jalan terbaik untuk membuat ekonomi dunia jadi lebih baik. Pada sebuah sesi panel, tidak banyak eksekutif dan penentu kebijakan yang vokal menyuarakan aspirasi. Tercatat hanya nama-nama seperti David Rubenstein (Direktur Pelaksana Carlyle Group), Raghuram G. Rajan (Professor of Finance Booth School of Business, University of Chicago), Ben Verwaayen (Chief executive Alcatel-Lucent) dan Brian T. Moynihan (CEO of Bank of America Corp) yang berani berbicara tentang iklim bisnis terkini.
Pelaku industri keuangan, yang dulu berkeluh kesah pasca krisis 2008, kini terlihat tenang. Pasalnya, bagi mereka bisnis pendanaan, perbankan dan investasi berjalan baik-baik saja. Selama profit dicapai, maka tidak perlu ada perubahan dalam sistem ekonomi dan finansial global. Dalam hakikatnya, Davos sekarang hanya menjadi tempat plesir bagi para delegasi dan pejabat negara ekonomi. Pendapat Robert Frank, Penulis buku 'Richistan dan 'High-Beta Rich' sekaligus reporter Wall Street Journal, mungkin ada benarnya. Frank sempat menyebut bahwa Davos adalah tempat bagi para biliuner dari seluruh dunia untuk berlibur secara gratis. Pada pertemuan tahun ini saja, jumlah orang kaya yang datang mencapai 70 delegasi.
"(Davos) tempat berkumpul orang-orang bisnis dan ekonomi dari seluruh dunia, harusnya ada suatu perubahan yang bisa mereka buat dalam 2-3 hari pertemuan," kecam Frank. Ia berpendapat bahwa Davos menjelma jadi sebuah klub eksekutif tempat manusia super kaya berkumpul, tidak lebih dari itu. Memang tidak ada yang salah tentang itu. Namun di tengah liputan media yang begitu besar, seharusnya para utusan bisa lebih serius merancang suatu perbaikan. Apalagi kondisi dunia saat ini sedang terancam resesi.

Qatar Pertahankan Suplai Asia

Qatar, salah satu produsen OPEC yang terkecil, telah memberikan konfirmasi paling tidak kepada salah satu pembeli dari Asia bahwa negara tersebut akan melakukan dan memenuhi kuota permintaan melalui laut untuk kapasitas kontrak bulan Maret secara penuh, stabil dari tingkat pengiriman bulan Februari, dikatakan sebuah sumber hari ini.
Qatar memberikan pilihan kepada pihak pembeli opsi adanya peningkatan dan penurunan kiriman sebesar 5%, ditambahkan sumber tersebut.
Langkah tersebut sudah diperkirakan saat Qatar terus memberikan pengiriman minyak mentah kepada konsumennya untuk kontrak penuh sejak bulan Agustus 2009.

Bursa Indonesia Melaba

Bursa Indonesia terbantu pemulihan sebagian besar pasar Asia dan indeks Dow Jones yang bergerak positif, kata trader. Indeks utama diperkirakan akan bergerak di kisaran 3880-3940 setelah ditutup turun 1.8% menjadi 3915.160.
"Secara keseluruhan pasar akan konsolidasi di range ketat menjelang rilis data inflasi bulan Januari pada hari Rabu (01/02)," menurut manajer pendanaan di perusahaan aset lokal. Astra (ASII.JK) dan Bank Mandiri (BMRI.JK) kemungkinan memimpin gain akibat bargain buying setelah indeks melemah. Indeks utama telah turun 2.8% di tiga sesi terakhir namun masih naik 2.4% sejak awal tahun 2012.

Perbankan Perketat Pinjaman Untuk Eropa : Fed

Lebih dari 2/3 sektor perbankan dalam sebuah survey yang diadakan Federal Reserve terhadap para senior loan officer mengatakan bahwa mereka melakukan pengetatan pinjaman terhadap sektor keuangan Eropa di bulan Januari, terkait memburuknya situasi ekonomi di wilayah tersebut.
“Sekitar 50% responden yang memiliki kompetisis dengan sektor perbankan Eropa mencatat adanya peningkatan kompetisi di bisnis mereka”, dikatakan Fed.
Selain itu, dikatakan juga bawah terjadi pengetatan yang meluas terkait pinjaman terhadap para perusahaan sektor non-keuangan yang memiliki operasional di AS dan pertimbangan terhadap perekonomian di Eropa.