Monday, March 12, 2012

Euro Hadapi Pekan Krusial

- Fokus utama pasar keuangan pekan ini tertuju ke Italia dan Spanyol. Selain rilis data GDP, momen krusial lainnya adalah lelang obligasi kedua negara dalam 3 hari ke depan.
Jika nantinya data GDP keluar di bawah ekspektasi, maka akan memicu sentimen negatif terkait upaya pemulihan krisis. Laporan ini begitu penting karena bisa menggambarkan minat investor terhadap aset hutang Eropa, khususnya setelah kemunculan pakta fiskal kawasan. Mata uang euro rentan mengakhiri momentum dan anjlok akibat munculnya pesimisme tentang perekonomian Eropa.

Menurut Tim analisa Teknikal Commerzbank, prospek nilai tukar EUR/USD masih negatif. Level tinggi terakhir 1.3487 bisa dilihat sebagai target tertinggi, sementara kisaran bawah terbatasi oleh 1.3325. Jika tertembus, maka nilai tukar euro rentan menuju titik rendah Februari, 1.2954 kemudian ke low Januari (1.2624). Saat ini, EUR/USD berada dalam tekanan namun masih bertengger di 1.3118

Komitmen Cina Coba Pulihkan Euro

Euro pulih di sesi London, ditopang oleh optimisme Cina akan tingkatkan investasinya di Eropa. “Cina akan jalankan kebijakan diversifikasi cadangan devisa. Kami masih menjadi investor jangka panjang untuk zona-euro,” ujar Yi Gang, pimpinan Lembaga Pengelola Valas Negara (SAFE). “Sebagian dari cadangan devisa Cina yang diinvestasikan pada aset zona-euro telah meningkat nilainya dengan return di atas inflasi.”
“Kami akan tetap menjadi investor di Eropa,” kata Yi yang juga tegaskan dukungan Cina untuk membantu Eropa selesaikan masalah utang. Cina memiliki cadangan devisa terbesar di dunia, mencapai $3,2 triliun. Walaupun mayoritas cadangan disimpan dalam bentuk aset berdenominasi dollar namun Beijing telah utarakan untuk mendiversifikasi cadangan devisanya ke aset keuangan lain.
Sementara itu, euro catatkan penguatan tipis di sesi London. EUR/USD kini diperdagangkan 1.3128, dekat level tinggi harian 1.3132

China Defisit, Harga Minyak Turun

Harga minyak sedikit melemah di perdagangan Asia Senin (12/3/2012) di tengah kekhawatiran pertumbuhan ekonomi yang mengalami pelemahan di China,konsumen energi terbesar dunia.

Kontrak utama New York, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April turun 52 sen ke posisi 106,88 dollar AS per brarel, sementara minyak mentah Brent North Sea juga penyerahan April turun 55 sen menjadi 125,43 dollar AS per barrel pada perdagangan pagi.

Kekhawatiran seputar permintaan energi China di mana terlihat setelah data kepabeanan yang dirilis Sabtu lalu menunjukkan bahwa ekonomi terbesar ke dua dunia itu sedikit melemah menuju ke suatu defisit perdagangan yang mencapai 31,48 miliar dollar pada Februari 2012.

Raksasa Asia itu biasanya sebagai eksportir murni untuk berbagai jenis barang. "Di mana telah terjadi penurunan dalam harga minyak, terutama karena reaksi defisit perdagangan di China pada Februari yang besar dan kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi di China yang melemah," kata Victor Shum, prinsipal senior konsultan energi Purvin and Gertz yang berbasis di Singapura.

Defisit perdagangan -- yang merupakan terbesar untuk setidaknya 12 tahun terakhir--muncul karena berbagai upaya perusahaan China untuk menjual ke mitra-mitra dagang utamanya di Barat tidak banyak mendatangkan hasil akibat pengaruh dari krisis utang zona euro serta lambannya pemulihan ekonomi Amerika Serikat.

Data kepabeanan muncul setelah statistik pada Jumat menunjukkan tingkat inflasi China turun tajam pada Februari dan pertumbuhan produksi pabrikan negara itu yang juga melamban.

China mengimpor 23,64 juta ton minyak mentah pada bulan lalu setara dengan 5,98 juta barrel per hari. "Angka perdagangan tersebut telah dikalahkan data yang menunjukkan kecenderungan permintaan untuk minyak mentah di China yang tetap sangat kuat," kata Shum.

Profit-taking Picu Nikkei Terkoreksi ke Bawah 10,000

Hingga sesi jeda siang pada perdagangan hari Senin (12/3), indeks Nikkei Jepang akhirnya terkoreksi hingga ke level 9,960.79 namun masih menuai gain sebesar 0.3%.
Koreksi indeks terutama disebabkan oleh aksi profit-taking setelah Nikkei merayap hingga setinggi 10,021.51, yang merupakan level tertingginya sejak awal Agustus tahun lalu. Namun meskipun indeks gagal bertahan di atas psikologis 10,000 untuk hari keduanya beruntun, secara teknikal, grafik harian Nikkei masih menunjukkan sinyal bullish bila mengacu slow stochastic dan MACD (moving average convergence-divergence), dimana keduanya merupakan indikator momentum jangka pendek. 
Sebelumnya, Nikkei mengalami rally hingga menembus di atas 10,000 terutama berkat penguatan USD sehingga menyebabkan Yen melemah dan memicu saham sektor ekportir Jepang banyak dibeli oleh investor. Selain itu, data ekonomi CGPI dan Machinery Orders Jepang yang membaik turut memberikan topangan terhadap indeks.
Saham sektor steelmakers (produsen baja) merupakan salah satu sektor yang berkinerja terbaik di bursa Tokyo karena terbantu oleh pelemahan yen, meningkatnya permintaan China sereta prospek menurunnya harga bijih besi. Tercatat saham JFE Holdings Inc melesat 1.9% dan Kobe Steel Ltd melejit 3.8%

Fundamental dan Nilai Tukar Bebani Performa Minyak

Selain emas, penguatan kurs dollar juga membebani kinerja harga minyak mentah. Futures minyak hari ini turun akibat beberapa sentimen penghambat.
Minyak light sweet pengiriman April turun sekitar 80 sen (0,7%) ke level $106.60 per barel. Kontrak sempat menguat 82 sen hari Jumat di NYMEX akibat dipengaruhi oleh rilis data tenaga kerja yang positif.
Mata uang dollar menguat terhadap beberapa mata uang utama dunia di awal pekan. Hal ini membuat nilai jual komoditi (termasuk minyak) jadi kurang menarik, karena harga belinya menjadi lebih mahal. Sentimen tambahan datang dari rilis data defisit perdagangan China, yang lebih besar dibanding perkiraan. Defisit Februari mencapai $31,48 miliar atau berlawanan dengan performa neraca perdagangan bulan sebelumnya, yaitu surplus sebesar $27,28 miliar. Pelemahan lini perdagangan cenderung bersifat musiman, namun turut ditambah oleh penurunan tingkat permintaan terhadap produk negara ini.

IMF Tinjau Kembali Bantuan Untuk Yunani

International Monetary Fund atau IMF bermaksud untuk memberikan kontribusi sebesar 18 miliar Euro (atau setara dengan $23.6 miliar) dalam bentuk dana segar untuk bantuan kedua Yunani, dengan maksud untuk mempertimbangkan bantuan IMF untik negara dengan krisis hutang Eropa.
Kontribusi IMF yang diungkapkan kemarin mewakili sekitar 14% dari bantuan sebesar 130 miliar untuk Yunani yang direncanakan untuk Eropa. IMF diperhitungkan untuk memberi bantuan sekitar $27 miliar atau sekitar 30 miliar Euro – dari bantuan awal Euro senilai bantuan 110 miliar di bulan Mei 2010.
“IMF berusaha mengatasi kesulitan antara bertahan dengan keterlibatannya dalam dana bantuan untuk Yunani, namun secara bersamaan, membatasi resiko dari dananya sendiri”, Esward Prasad, dikatakan seorang mantan pejabat IMF dari Brookings Insitution di Washington, dalam sebuah e-mail. IMF saat ini sedang mempertimbangkan keterlibatannya dalam pemberian bantuan untuk Yunani. Hal ini menimbulkan resiko untuk politik dan keuangan terkait dana tersebut”.