Friday, March 16, 2012

Fed’s Lacker: Suku Bunga Perlu Dinaikkan Naik Tahun Depan

Salah seorang petinggi Federal Reserve AS pada hari Jumat mengatakan bahwa dirinya tidak mendukung keputusan bank sentral pekan ini untuk mempertahankan tingkat suku bunga mendekati nol sampai setidaknya akhir 2014, dan menilai jika suku bunga mungkin perlu dinaikkan pada tahun 2013.
"Perekonomian terus berkembang dengan kecepatan yang moderat, dan inflasibertengger tidak jauh dari target 2% bank sentral," kata Jeffrey Lacker, PresidenFederal Reserve Bank of Richmond, dalam sebuah pernyataan yang dimuat dalamwebsite Fed Richmond.
Lacker menjadi satu-satunya anggota FOMC yang tidak mendukung kebijakan yang diumumkan Fed pada hari Selasa lalu, dimana bank sentral menyatakan jika kondisi ekonomi sampai tahun 2014 kemungkinan masih akan sesuai untuk tingkat suku bunga sangat rendah. Lacker juga menambahkan bahwa ekonomi yang terus menunjukkan ekspansi beresiko memacu harga, sehingga suku bunga perlu ditingkatkan guna mengontrol laju inflasi.

USD Masih Dominan Terapresiasi vs Major Currencies

Pada perdagangan akhir pekan (Jumat, 16/3) secara umum pasar dunia mengalami keterpurukan di semua sektor sehingga baik di major currencies maupun di bursa saham sama-sama bergerak di angka negatif.
Anjloknya major currencies (mata uang utama dunia) terutama akibat para investor terus menghindari aset-aset berisiko terkait terapresiasinya dollar (USD), sehingga tidak sedikit investor yang melakukan aksi profit taking. Bahkan dollar kini semakin kokoh terutama setelah data ekonomi AS semalam yang bagus kian menambah power bagi pemulihan pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam.
Angka pengangguran AS (initial claims) yang diumumkan semalam turun jauh di bawah perkiraaan di level 351,000 dari sebelumnya 365,000 ke posisi terendahnya dalam empat tahun terakhir. Dan merupakan satu lagi sinyal pemulihan di sektor ketenagakerjaan. Sementara harga bahan pokok dan bahan bakar tetap stabil. Data lain yang turut melonjak di atas ekspektasi yaitu NY Fed Manufacturing, Net Capital Inflows dan Philly Fed Manufacturing Index. Terhadap Euro, kini USD menguat di kisaran 1.3080-an dan terhadap Sterling, sang Greenback masih kokoh di area 1.5715.

Moody's Pangkas Peringkat Nomura

Hari ini (16/03) lembaga pemeringkat Moody's memangkas peringkat hutang jangka panjang Nomura Holdings Inc sebesar satu tingkat di atas 'junk'. Penilaian diambil berdasarkan kelemahan dalam operasi pasar modal internasional dari perusahaan broker terbesar di Jepang.
Peringkat jangka panjang dipangkas menjadi Baa3 dari Baa2, menempatkannya satu tingkat di atas non-investment grade. Outlook stabil. Moody's melakukan peninjauan sejak bulan November. "Tindakan ini merefleksikan pandangan Moody's pada kegiatan internasional Nomura yang telah menyebabkan tingginya tingkat volatilitas pendapatan dikarenakan posisi strategis yang relatif lemah dari bisnis Nomura. Hal ini dikombinasikan dengan lingkungan operasional yang sulit," jelas Moody's.
Menurut Moody's masih ada ketidakpastian tentang posisi jangka panjang dan profitabilitas kegiatan internasional Nomura di pasar modal, mengingat pangsa pasar yang lebih lemah dibandingkan dengan partner globalnya. Langkah ini dilakukan pada saat Nomura mencoba untuk mengelola bisnis di luar negeri, yang dipangaruhi oleh ketidakstabilan pasar global dan krisis utang Eropa. Tindakan pemangkasan peringkat yang dilakukan Moody `s merupakan yang pertama untuk perusahaan pialang sejak Mei 2009 saat dilakukan pemangkasan karena lembaga pemeringkat melihat tantangan yang berasal dari akuisisi perusahaan yang beroperasi di Eropa dan Asia, Lehman Brothers pada tahun 2008.
Nomura telah menjadi salah satu bank investasi global yang memiliki peringkat terendah dibandingkan dengan pesaingnya, Goldman Sachs yang memiliki peringkat A1 dan Morgan Stanley dengan peringkat A2. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan pendanaan Nomura, dimana Nomura membutuhkan broker untuk memberikan jaminan lebih banyak. Akan lebih sulit bagi Nomura untuk mengembaangkan bisnis luar negeri.
Kepala operasional Nomura, Takumi Shibata mengatakan bahwa jika peringkat utang perusahaan turun, maka Nomura perlu untuk memasok antara Y10-Y20 miliar pada jaminan tambahan untuk mengamankan pinjaman. Dengan likuiditas kas sekitar $ 70 miliar, penyediaan jaminan tambahan tidak akan berdampak signifikan terhadap posisi likuiditas Nomura. Pemangkasan peringkat terjadi meskipun Nomura membukukan angka yang cukup kuat untuk kuartal ini.
Pada kuartal ketiga tahun fiskal yang berakhir 31 Desember, Nomura membukukan laba bersih Y17.82 miliar. Hal ini terjadi setelah sempat merugi Y46.09 miliar pada kuartal Juli-September. Keuntungan terakhir sebagian besar berasal dari keuntungan atas penjualan saham perusahaan di restoran Jepang, Skylark Co.
Namun kerugian Nomura di Eropa menyapu bersih keuntungan dari bisnis di luar negeri sehingga Nomura membukukan kerugian hingga Y20.94 miliar di kawasan itu, dengan pasar yang tetap stabil di tengah krisis utang negara Eropa. Meski Nomura berencana memangkas biaya hingga $1.2 miliar, saham berperforma buruk dan anjlok hingga Y223, rekor terendah. Hal ini sebagian dikarenakan kekhawatiran atas kemungkinan pemotongan peringkat kredit. Standard & Poor memberi peringkat BBB + pada Nomura, dengan outlook stabil, demikian juga dengan Fitch Ratings yang memberi peringkat BBB+.
Kemarin (15/03) menjelang pengumuman, saham Nomura ditutup naik 0.25% menjadi Y400 di Tokyo Stock Exchange. Pasar saham tampaknya telah bersiap menghadapi penurunan peingkat ketika saham Nomura turun ke rekor rendah Y223 pada 24 November setelah Moody's mengumumkan tengah meninjau peringkat Nomura.

Hong Kong shares rebound from opening lower

(MarketWatch) -- Hong Kong shares opened lower but struggled for direction early Friday, as Bank of Communications Co. and Li & Fung Ltd. climbed to provide support although shares of heavyweight China Mobile Ltd. and China Overseas Land & Investment Ltd. dropped. 
The Hang Seng Index rose 0.2% to 21,405.65, tracking a seventh day of gains for the Dow Jones industrials on Thursday, while the Hang Seng China Enterprises Index added 0.3% to 11,277.79. 
Bank of Communications climbed 2.8% as investors looked past concerns of equity-dilution from the lender's share placement, while growing optimism over the U.S. economy pushed shares of merchandise supplier Li & Fung up by 4%. 
China Mobile fell 1.1% after Macquarie downgraded the stock to neutral from outperform, while COLI dropped 1.3% a day after reporting its annual results, despite receiving an upgrade from Bank of America Merrill Lynch to buy. China's Shanghai Composite added 0.6% to 2,387.92.

Utang Italia Capai US$ 2,47 Triliun

Negeri pizza Italia ternyata mempunyai utang yang luar biasa besar. Jumlah utang Italia per Januari 2012 mencapai 1,94 triliun euro atau US$ 2,47 triliun. Jauh jika dibanding utang Indonesia US$ 204,15 miliar.

Bank sentral Italia mengatakan, nilai utang ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah dan menyebabkan ongkos berutang Italia makin besar.

Utang di Januari tersebut naik 37,9 miliar euro dibandingkan Desember 2011 lalu. Italia merupakan salah satu negara yang utangnya sudah parah dan dikhawatirkan mengguncang keuangan Eropa yang tengah dilanda krisis utang.

Rasio utang tersebut setara dengan 120 dari nilai PDB terakhir negara tersebut, dan saat ini Italia mengancam munculnya krisis utang di Eropa. Tahun ini Italia berencana menerbitkan surat utang 450 miliar euro.

Di tengah kondisi ekonomi yang mengguncang saat ini, biaya utang Italia semakin meningkat dan bakal memberatkan negara tersebut.

Thursday, March 15, 2012

China regulator eases lending ratio for some banks

(MarketWatch) - China's banking regulator has slightly eased lending requirements at some of the nation's largest banks, hiking the 2012 ratio of funds that they can lend against deposits, according to a Dow Jones Newswires report which cited the mainland financial publication Business Herald. 
The China Banking Regulatory Commission's new rules lift Industrial & Commercial Bank of China Ltd.'s loan to deposit ratio to 63% from 62%, while China Construction Bank Corp.'s will rise to 70% from 68%, the report said. Bloomberg News reported Thursday that Bank of China Ltd. has also benefited from a loosening in lending restrictions.

Emas Kehabisan Sentimen Pendukung

Aksi beli investor hari ini menopang kinerja harga emas sepanjang sesi perdagangan Asia. Logam mulia anti-inflasi kini bergerak dalam teritori positif pasca penurunan semalam.
Aksi beli fisik di Asia berhasil membantu performa harga emas. Namun konsistensinya belum tampak sehingga prospek harga belum cukup solid. Harga kontrak saat ini tampak di $1642.75 atau sedikit melemah dibanding beberapa jam lalu. Harga spot sempat menguat sampai $1644 sebelum kembali anjlok. Sentimen di pasar masih bearish mengingat potensi sentimen positif makin berkurang. Ekspektasi pelonggaran kuantitatif di Amerika urung terjadi akibat laju perekonomian yang membaik. Sementara ancaman inflasi di beberapa negara maju juga kian memudar sehingga tidak ada sentimen yang bisa memicu kenaikan harga. Support untuk emas masih di $1600 per ons.

Bursa Asia Kembali Cemaskan China

Di Asia sejumlah indeks saham terlihat bergerak sideways dan tenang namun cenderung melemah lantaran dipicu oleh kekhawatiran baru terhadap pertumbuhan ekonomi China.
Hingga perdagangan hari Kamis (15/3) secara umum pasar masih lebih dipengaruhi oleh outlook ekonomi global yang menopang dolar AS sehingga kondisi tersebut masih menjaga investor tetap berminat pada aset-aset berisiko,
Namun demikian para investor di Asia kini lebih bersikap waspada dan hati-hati bahkan cenderung enggan masuk pasar setelah PM China Wen Jiabao memangkas target pertumbuhan ekonomi China tahun ini hingga ke level 7.5% yang merupakan level terendah dalam 8 tahun terakhir, menyusul data neraca perdagangan China yang merosot sebesar $31.5 milyar di bulan Februari, dan merupakan defisit terbesar setidaknya dalam satu dekade.
Indeks saham Nikkei Jepang terpantau masih menguat dan memperpanjang reli sesi sebelumnya, di mana indeks bertengger di atas level 10.000 untuk kali pertama dalam tujuh bulan, akibat rebound saham eksportir yang disebabkan pelemahan yen. Nikkei naik 0,93 persen ke level 10.143,98 (+91.44 poin), sementara KOSPI KorSel menguat 0.1% ke level kisaran 2048, dan KOSPI futures menguat 0.16% ke level 273.30 atau naik hanya 45 poin.

Apple May Climb Above $700 as IPad Sales Begin, Analysts Say

Apple Inc. (AAPL), getting a boost from anticipation of the new iPad, rose to a record today and may climb 19 percent to $700, according to analysts who raised their price targets for the stock. 
At least four analysts, including Katy Huberty at Morgan Stanley in New York, have increased price targets to $700 or higher in the past two weeks. Apple, based in Cupertino, California, rose 3.8 percent to $589.58 at the close in New York and has gained 46 percent this year. More are likely to boost targets as they quantify the market share of the new iPad, said Michael Walkley, an analyst at Canaccord Genuity, who raised his target to $710 yesterday. The average price target of 43 analysts surveyed by Bloomberg is $605, which could mean updates are lagging behind, he said.
“As they do their checks in the quarter and stronger numbers come through, it leads to better earnings power than we were seeing even six weeks ago,” Walkley said in an interview. “Some analysts are behind the curve on estimates.” . Shares of some Apple competitors have languished as the company takes market share. Hewlett-Packard Co. (HPQ), which has tried competing with Apple through smartphones, tablets and personal computers, has tumbled 41 percent in the past 12 months. Nokia Oyj has fallen 40 percent. Research In Motion Ltd., the maker of BlackBerry smartphones, has dropped 79 percent. As of today, Apple gave investors a 555 percent return in the past five years and has outperformed the Standard & Poor’s 500 Index by 543 percent. Since 2007, investors paid an average 43 percent premium for Apple’s earnings compared with the S&P 500’s earnings.

Yield naik, Dollar lanjutkan rally

Dollar melanjutkan rally atas lawan utamanya dalam perdagangan hari ini di tengah optimisme soal pemulihan ekonomi AS yang mendongkrak yield obligasinya. 
Optimisme muncul setelah the Fed, pasca rapat regulernya, menyampaikan pernyataan yang positif mengenai ekonomi AS, dengan menyebutnya tumbuh secara moderat. Pernyataan itu mengurangi kemungkinan bank sentral AS tersebut menambah stimulus moneternya dalam waktu dekat. Data penjualan ritel menambah optimisme itu. 


Dollar juga menguat terhadap semua rival utamanya berkat kenaikan yield Treasury-nya. Untuk pertama kalinya sejak lama dollar diuntungkan oleh kenaikan yield. Selain karena pemulihan ekonomi, faktor yang mengangkat yield terkait dengan kebijakan yang diambil the Fed. Seiring dengan pemulihan ekonomi AS, the Fed bersikap wait-and-see dan menahan amunisinya. 
Dengan menahan diri dari menambah stimulus, the Fed punya keunggulan dengan bank sentral lain, yang baru saja menambah stimulusnya. BOJ menambah program pembelian asetnya bulan lalu sebesar, begitupun dengan BOE. ECB menggelar LTRO sebanyak dua kali, yaitu pada Desember dan Februari.  


Pemerintah AS menjual obligasi tenor 30 tahun dengan yield tertinggi sejak Agustus dan note tenor dua tahun naik ke level tertinggi sejak Juli. Banyak yang memperkirakan yield akan terus menanjak. Hal ini bisa menjadi daya tarik dollar, terutama atas mata uang negara yang yield-nya rendah atau jatuh dan ekonomi sulit tumbuh sepesat AS. 


Indeks dollar, yang mengukur kinerja mata uang AS itu terhadap enam rival utamanya, naik ke 80,531, setelah sempat menyentuh 80,629. Dollar tetap digdaya atas yen, menggapai level 84,17 atau tertinggi sejak April 2011. Greenback juga tetap unggul atas franc, menanjak sampai 0,9335. 
Mata uang seperti euro, sterling dan aussie juga dijauhi. Euro melemah ke $1,3004 hari ini, sterling ke $1,5636 dan aussie  melorot sampai di $1,0423. 


Penguatan dollar yang sudah tajam mungkin membuka peluang untuk koreksi. Dolar mungkin bisa melanjutkan gain terhadap yen dan franc, tapi  rally atas mata uang berisiko mulai melambat. Meski demikian, tanpa didukung sentimen baru, rebound mata uang berisiko itu mungkin terbatas.  


Tidak ada data penting terjadwal di Asia hari ini. Belum ada perkembangan baru dari Eropa sejak drama restrukturisasi Yunani. Pasar akan mencermati hasil rapat reguler Bank Sentral Swiss (SNB) dan data pengangguran zona euro. Dari AS, data antara lain : Initial Jobless Claims, indeks PPI dan indeks Manufaktur New York dan Philadelphia.  

Emas Masih Berada Di Bawah Tekanan

Emas anjlok ke level terendah sejak pertengahan bulan Januari untuk ditutup dekat level $1,642 per ons pada hari Rabu setelah outlook ekonomi yang cerah dari Fed memicu penguatan dollar dan membuat investor melepas emas.
Anjloknya harga emas menunjukkan hilangnya premi terhadap quantitative easing tambahan, dengan harga menghapus hampir semua gain yang dicetak sejak 25 Januari ketika Fed mensinyalkan unutk penambahan stimulus. "Yield obligasi 10 tahunan AS telah menembus range selama 5 atau 6 bulan. Itu menjadi pertanda berubahnya sentimen suku bunga," ucap Ole Hansen, manajer senior Saxo Bank. "Mengingat Fed dovish, terutama Bernanke, pertumbuhan adalah hal mengejutkan. Sehingga tidak adanya quantitative easing dan perkirakaan kenaikan tingkat suku bunga tidak bagus untuk emas dalam jangka pendek,” ucapnya.

Wednesday, March 14, 2012

Fed's Bernanke Teguhkan Penguatan Dollar

 Dollar lanjutkan penguatan setelah Fed's Bernanke tegaskan pemulihan ekonomi AS akan berlangsung bertahap. Bernanke juga tidak berikan isyarat akan perlunya stimulus  moneter tambahan demi menopang pemulihan. Indeks swap kini tunjukan ada 66% kemungkinan bagi Fed untuk naikan suku bunga sebanyak 0,5% pada November 2013. Kemungkinan tersebut lebih tinggi dari publikasi Selasa yang tunjukan 44% dan Senin yang hanya 34%. EUR/USD dan emas masih melemah di sesi New York masing-masing diperdagangkan 1.3045 dan 1649.55

Perbankan Merajai Wall St

Permintaan untuk saham-saham perbankan di Wall Street menunjukkan peningkatan cukup signifikan pada sesi perdagangan hari Rabu pasca pengumumanFederal Reserve AS kemarin menunjukkan jika sebagian besar bank-bank besarAmerika memiliki kemampuan pendanaan yang memadai untuk bertahan dari goncangan ekonomi yang kuat.
Dalam ujian yang dikondisikan seperti krisis tahun 2008, termasuk dengan tingkat pengangguran 13% dan Dow terperosok di bawah level 6.000, hanya Ally Financial Inc., Citigroup Inc., SunTrust Banks Inc., dan MetLife Inc. yang dinyatakan tidak lolos.
Dow Jones Industrial Average sejauh ini telah beranjak 40 poin lebih tinggi, dengan dipimpin saham JPMorgan Chase, Bank of America dan American Express. Penguatan sektor teknologi dan energi juga menghantarkan S&P 500 naik sekitar 0,15%, sedangkan Nasdaq Composite berhasil memperoleh 0,25%.
Sementara data ekonomi yang dirilis hari ini menunjukkan indeks harga impor meningkat 0,4% pada bulan Februari seiring turunnya harga pangan mengimbangi lonjakan 1,8% dalam biaya bahan bakar.

USDCHF Dekati Area 0.9300

Rally Greenback yang mulai terjadi pasca pengumuman kebijakanFederal Reserve AS tampak masih terus berlanjut pada awal sesi New York hari Rabu, dengan menyentuh level tertinggi 1-bulan versus Franc Swiss.
Saat ini USDCHF diperdagangkan pada kisaran 0.9280 atau sekitar 0,5% di atas level harga pembukaan hari Rabu, setelah sempat mencetak harga tertinggi harian baru di 0.9296.
Dari sisi teknikal, "Selama dapat bertahan di atas SMA 100, bias bullish pasangan mata uang ini masih akan tetap terjaga. Penembusan jelas di atas 0.9310 akan membuka jalan menuju target berikutnya yang terletak pada zona 0.9445," kata tim analis ecPulse.com. Mereka meletakkan resistensi USDCHF berikutnya pada area 0.9310 (high 24 Jan), diikuti oleh 0.9355 (retracement 23,6% dari rally 27 Okt-9 Jan) dan level psikologis 0.9400. Sebaliknya support dapat dijumpai pada area 0.9225 (MA 50-hari), kemudian 0.9190 (MA 100-hari) dan 0.9140 (low 13 Mar).

Bursa Eropa Menyambut Positif Hasil Lelang Italia

Mayoritas saham di bursa-bursa utama Eropa, terutama saham-saham keuangan, diperdagangkan lebih tinggi pada hari Rabu menyusul komentar optimis yang keluar dari Federal Reserve AS dan kesuksesan lelang obligasi Italia meredam kecemasan investor terhadap resiko perlambatan ekonomi global.
Indeks DAX Jerman dan CAC40 Perancis sejauh ini masih bertengger di zona hijau dengan masing-masing memperoleh 1,25% dan 0,8%, diikuti oleh indeks FTSE Inggrisyang mencatat penguatan sekitar 0,4%.
Dalam sebuah pernyataan yang mengiringi pengumuman kebijakan suku bunganya, Federal Reserve mengatakan jika prospek pertumbuhan pada ekonomi terbesar di dunia dan juga pasar ekspor terbesar Eropa itu mungkin akan terus memperlihatkan perbaikan, sembari menyampaikan jika sebagian besar bank-bank AS berhasil melewati uji stress perbankan.
Sementara Italia, yang merupakan debitur terbesar di Eropa, sukses menjual €6 milyar surat hutang jangka menengah dengan yield turun ke level terendah sejak Oktober 2010, yang menunjukkan jika investor mulai lebih optimis menyusul tercapainya kesepakatan restrukturisasi hutang Yunani. Bailout tahap ke-2 untuk Yunani telah resmi disetujui, yang memberikan wewenang bagi EFSF untuk menyalurkan €39,4 milyar dana bantuan yang merupakan bagian dari kesepakatanbailout senilai €130 milyar.